Khadeeja is having...!!


Everyday-nine-to-five computer simulation
Meetings+Meetings+Meetings
Final Exam Syndrome

Petronas Interview
Job Application
Report write up
Design Project
CV Write Up
Practicals
Tarbiyah
Dakwah
Usrah

Easter Break Malaysia weeee!!


Khadeeja is having her nice little 'break'
Sorry if for not being able to make you a cup of coffee for the next few weeks!
(as if people are eagerly waiting for your entry Khadeeja!..ngeh3!)

Ask Muhammad to make one for you...hehe!~

Luv,
Khadeeja

5 Bekal isteri aktivis dakwah


Copied from dakwatuna.com

Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:


1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!


2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.


3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!


4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!


5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.


Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?

Saya perasan sibuk!


BuZz!

"Anti sibuk?"

"Hee.. tak..insyaAllah ok je. Ada apa?"

Sibuk... saya cukup takut untuk mengucapkan perkataan sibuk. Tambah apabila rakan akhwat atau buah-buah hati kesayangan saya menegur di tetingkap Yahoo! Messenger. Pasti walau apa saja yang saya lakukan ketika itu, sama ada sedang menaip Design Report 80 muka yang perlu dihantar seawal pagi esoknya atau sedang menghabiskan bacaan journal yang berlambakan, saya pasti akan meluangkan sedikit masa untuk mereka yang menegur di tetingkap Y!M. Kerana saya tahu mereka bukan saja-saja menegur. Biasanya akan bertanyakan perkara penting atau memerlukan teman mengisi bicara dan nasihat. Saya cuba meletakkan diri di tempat mereka, di saat diri buntu dan perlukan teman yang sudi mendengar, alangkah patahnya hati apabila insan yang diharapkan membalas "Afwan... ana sibuk sekarang".

Saya tak layak mengucapkan perkataan sibuk, kerana saya tahu saya sebenarnya hanya PERASAN sibuk. Walaupun saya rasa saya sibuk, tapi saya masih ada masa untuk tidur lebih daripada 6 jam sehari, masih ada masa membaca blog orang lain, masih ada masa menulis secangkir kopi, mana mungkin saya bisa mengaku saya sebenarnya sibuk. Saya tidak ada hak untuk mengeluh kerana sibuk. Kerana sejak dari detik saya melangkahkan kaki ke jalan ini, saya seharusnya maklum yang saya tidak akan punya masa lapang lagi untuk diri sendiri.

"Al-waajibaat aktharu min al-auqaat......"
"Kewajipan itu lebih banyak daripada masa!!"

Tiada istilah 'tiada kerja' dalam kamus hidup seorang yang menggelarkan dirinya sebagai dai' e atau pejuang Islam kerana kewajipan sentiasa melambaki masa yang ada. Suatu kebohongan yang besar andai dia mengaku dia sudah kehabisan kerja lantas punya masa untuk bersenang-senang dengan menonton filem atau drama bersiri kegemaran.

'Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap' (Al-Insyirah: 7-8)

Kenapa kita sering berkompromi dengan liqo' yang hanya sekali seminggu atau program tarbiyah yang hanya sekali sebulan atas alasan kesibukan dengan urusan akademik atau urusan dunia yang lain? Mengapa kita tidak boleh mewajibkan diri kita hadir ke setiap program tarbiyah yang diaturkan seperti mana kita mewajibkan diri kita hadir ke setiap sesi kuliah? Owh, kalau tidak hadir kuliah, nanti terlepas subjek penting yang mungkin disoal dalam peperiksaankan? Macam mana nak cemerlang dalam pelajaran..nak jadi pelajar terbaik! Habis, kalau tidak hadir program tarbiyah, bukankah kita terlepas mengutip bekalan untuk lulus cemerlang dalam ujian di titian sirat? Macam mana nak cemerlang dalam hidup dunia akhirat... nak jadi orang yang terpilih ke syurga!

Hati saya sedih melihat wajah buah-buah hati kesayangan dalam pertemuan saban minggu kami. Di saat mereka semakin membutuhkan lebih perhatian dan masa, saya semakin dihimpit dengan kekangan akademik yang semakin mencengkam. Hati menjadi belas melihat mereka. Saya sudah jarang meluangkan masa menziarahi mereka dari bilik ke bilik seperti yang selalu saya lakukan suatu waktu dahulu. Tambah sedih apabila ada antaranya yang mengatakan saya tidak lagi seperti yang mereka kenali dahulu.

Adik...
Maafkan kakak kerana sudah terlalu jarang menziarahimu,
Maafkan kakak kerana sudah lama tidak bertanyakan apa mahumu,
Maafkan kakak kerana sudah jarang menyentuh hatimu,
Maafkan kakak andai hatimu terasa jauh dariku.

Adik...
Allah sahaja yang tahu betapa kakak merindukan,
Bual-bual mesra sepanjang malam denganmu seperti dahulu,
Percik sambal dan bau masakan di baju saat kita mencuba resepi baru,
Tangis kita saat mentadaburi ayat-ayat cintaNya.

Adik...
Percayalah aku sentiasa mencuba,
Memberikan yang terbaik untukmu semampuku,
Tidak kerana dirimu dan bukan juga kerana diriku,
Tetapi kerana redha Allah yang kita harap memayungi,
Ukhuwah kita yang indah ini...

Sudah terlalu panjang saya menulis. Cukuplah di sini dahulu...

Demi masa...


SISTERS' DAY OUT @ PLATTFIELD!


It was great!

It was fun!

Alhamdulillah... Alhamdulillah...

Semoga ukhuwah ini berkekalan selamanya

Sayang antunna fillah...